Buah Pala Gerakkan Perekonomian Warga


Buah Pala Gerakkan Perekonomian Warga

ANAMBAS – Puluhan warga Desa Arung Hijau Kecamatan Siantan Selatan sangat antusias mengikuti pelatihan pembuatan sirup buah pala. Desa Arung Hijau, saat ini terdapat perkebunan pala terbesar di Kabupaten Anambas.

Pelatihan tersebut, mendatangkan narasumber asal negara Perancis yang sudah fasih berbahasa Indonesia. Desa yang dihuni sejak puluhan tahun, bahkan ratusan tahun yang lalu terlihat penduduk di sana cukup geliat bekerja dalam meningkatkan perekonomian rumah tangga dengan mengolah buah pala.

Jika didengar dari logat bahasanya, mayoritas penduduk di Desa Arung Hijau berasal dari Provinsi Riau yakni Teluk Kuantan. Dengan memiliki perkebunan pala terbesar, jika ini dikelola dengan baik dan benar sudah tentu akan bisa menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Khsusus bagi masyarakat di sana, akan bisa bekerja dan pengangguran akan berkurang. Diharapkan ke depannya akan ada lebih banyak lagi penggiat dan pengusaha buah pala di sejumlah daerah Kabupaten Anambas.

”Pelatihan ini dilakukan untuk memberikan pengetahuan kepada sejumlah warga, tentang pengolahan buah pala menjadi sirup,” jelas Rahmat, salah seorang warga yang hadir pelatihan, Senin (31/10).

Menurutnya, menanam buah pala sangat banyak manfaatnya dan keuntungan ekonomi juga bisa diandalkan. Mulai dari kulit, daun, buah memiliki nilai jual dan tidak ada yang tidak bisa dijual. Ia menjelaskan, bahwa tanaman pala tidak sulit dirawat dan sangat cocok dengan iklim tropis.

Sebab, tanaman pala ini bisa dikatakan tanaman hutan bisa tumbuh dimana saja. Sementara salah seorang warga lainnya Romlah menjelaskan, tentang proses pembuatan sirup dari buah pala.

Romlah mengungkapkan, tiga kilo buah pala yang sudah dikupas lalu ambil lagi tiga kilo gula pasir tambahkan tiga liter air seterusnya dimasukkan di wadah yang ditutup rapat sambil dididihkan menggunakan kompor gas. Setelah 30 menit dididihkan, wadah yang ditutup tersebut dibuka dan dimatikan api kompornya.

Setelah itu, biarkan sekitar 10 menit dan hasilnya dituangkan didalam botol ukuran 1,5 liter sebanyak 9 botol dan siap diedarkan. ”Kami diberi pelatihan dari orang negara Perancis, yang bernama Mr Michele, kami gelar dia Bule Kampung,” jelas Romlah.

Ia melanjutkan, sang bule kampung itu mengambil rebusan kulit pala dari dalam wadah. Selanjutnya, Mr Michele memasukkan ke dalam blender untuk dijadikan selai.

*Sumber : Tanjungpinang Pos

0 Comments

Leave a comment