Akhir September Ini PT Super Sistem Ultima Beroperasi, Begini Penjelasan Sang Direktur


Akhir September Ini PT Super Sistem Ultima Beroperasi, Begini Penjelasan Sang Direktur

Pengoperasian PT Super Sistem Ultima (SSU) di Anambas menjadi pertanyaan. Perusahaan yang memiliki aset PT Sacofa, yang diputus disaksikan Panglima TNI Jendral Gatot Nurmantyo, menjadi sorotan.

Sorotan setelah ada komitmen dengan pemerintah daerah berkenaan peningkatan sejumlah sarana dan prasarana di bidang teknologi, informasi dan komunikasi.

"Kami berharap komitmen dari PT SSU untuk meningkatkan kapasitas akses internet. Ini karena untuk proses perizinan sudah harus menerapkan sistem Online Single Submission (OSS)," ujar Yunizar, Kepala Dinas penanaman modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP), Tenaga kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kepulauan Anambas, Rabu (12/9/2018).

Ia menjelaskan, pihak perusahaan sebelumnya berkomitmen un?tuk memberikan akses internet untuk Pemerintah Daerah.

Sejumlah izin yang menjadi kewenangan kabupaten pun, diakuinya sudah dikantongi oleh pihak perusahaan mulai dari TDP, SITU dan SIUP. Dengan penerapan OSS,

pihak perusahaan saat ini tinggal menunggu Nomor Induk Berusaha (NIB). "Apabila sudah lengkap, dianggap memiliki tiga izin yang lama. Untuk saat ini, NIBnya belum keluar," ungkapnya.

Ia tidak mengelak, kendala internet masih menjadi kendala dalam menerapkan sistem OSS ini. Lama waktu hingga tiga setengah jam, diakuinya pernah dilakukan untuk

melakukan entri data ke sistem OSS ini dengan didampingi staf kantor PTSP. Merujuk pada peraturan, penerapan OSS ini menurutnya sudah harus direalisasikan pada tanggal 21 Juni 2018.

"Kenyataannya di daerah seperti itu. ?Oleh karena itu, kami berharap perusahan itu bisa beroperasi segera. Kaitannya untuk meningkatkan pelayanan PTSP," ungkapnya seraya mengatakan sudah ada empat perusahaan yang mengurus NIB namun baru dua yang terbit.

Direktur PT Super Sistem Ultima Marshall Jahja yang dikonfirmasi memperkirakan, pengoperasian perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi ini baru akan dilakukan pada akhir September tahun ini.

Ia menjelaskan, putusnya kabel sekitar 200 meter dari Cale landing station menjadi kendala? dalam proses pengoperasian.

Proses penyambungan kabel, baru dilakukan belum lama ini sambil menunggu perizinan dari Dirjen perhubungan laut Kementrian perhubungan dan ketersediaan kapal.

"Apabila ada keterlambatan, bisa jadi pada akhir Oktober 2018 ini. Adapun untuk site Natuna sudah dalam pengerjaan. Proses aktivasi ini harus bersamaan antara Anambas dan Natuna," ungkapnya melalui laman WhatApp. Ia pun tidak mengelak mengenai rencana perusahaan untuk memerikan akses bandwidth kepada Pemerintah Daerah.

Hanya saja, untuk mengeksekusinya diperlukan upaya lebih. Hal itu, menurutnya juga masuk dalam salahsatu program CSR perusahaan.

"Memang ada rencana seperti itu. Namun belum bisa ditentukan kapal penyaluran bandwidth internetnya. Karena internet masuk sebagai salahsatu program CSR.


Namun di dalam program tersebut ada beerapa komitmen. Mana yang mau dijalankan terlebih dahulu baru bisa ditentukan nanti setelah beroperasi," ungkapnya. (*)

*Sumber : TribunBatam


0 Comments

Leave a comment